Parenting Sekolah Shaina Social Life

Jangan Kotori Anak dgn Masalah Prabowo-Jokowi!

Shaina election
Written by Cicha

“Ma, kata Kiti (bukan nama sebenernya – 6thn) kita ga boleh pilih jokowi loh, Jokowi itu jahat, nanti Jokowi tembak-tembakin Indonesia. Harusnya kita pilih Prabowo”

*kemudian hening*
*melongo moment buat emaknya*

Aku rasa semua orangtua yang waras setuju, kalau pikiran anak-anak itu masih suci, polos dan menyerap apapun yang ada di sekitarnya. Makanya ada istilah anak-anak is like “monkey see monkey do”. Apa yang dia liat ya dia lakukan. Apa yang ditanamkan di pikiran, itu yang di aplikasikan. Walau kita orang tua (yg waras) ini sudah berusaha menanamkan yang positif dll, tetap anak punya kehidupan sosial dengan teman-temannya. Makanya untuk bisa mengontrol, aku minta Shaina selalu cerita apa yang dia alami di sekolah, ga bosen-bosennya aku nanya, walau kadang jawabannya ga memuaskan. Tapi tetep usaha. Salah satu upayanya dengan project diary.

Alangkah terkejutnya aku, denger cerita Shaina kemaren soal dunia politik hitam yang harusnya ga harus sampe tercetus di kalangan anak 1 SD!

Aku ga salahin Kiti sama sekali. Balik lagi yang aku bilang tadi, Monkey see – Monkey do. Ga mungkin seorang anak umur 6tahun ngerti soal begini-begini kalau tidak ditanamkan dari rumah. Correct me if I’m wrong. Karena akal sehatku berpikir, anak umur segini ga mungkin kan mantengin twitter-war atau melototin facebook timeline dimana isinya orang-orang berantem soal capres 1 dan 2?! Apa mungkin? Yang paling mungkin adalah dia denger atau lihat atau emang sudah ditanamkan dari rumah.

Yang pertama muncul dipikiranku, ni orangtua / orang rumah si Kiti pasti pendukung fanatik Prabowo yg mendewakan Prabowo sebagai “titisan Allah S.W.T”.

Okelah, terlepas dari ortunya pilih Jokowi atau pilih Prabowo. It doesn’t matter anymore for me anyway. Konon perbedaan itu indah. Tapii.. masalah menanamkan kebencian, menorehkan sebuah gambaran delusional yang ga masuk akal dan penggambaran seperti itu, apa pantes diomongin oleh anak-anak? Cukuplah ribut-ribut dan berantem soal fanatisme itu di facebook dan twitter. Kenapa dibawa ke anak-anak di sekolah sih? Kenapa juga diajarin kayak begitu?

Shaina sih memang tau ada pemilihan presiden kemaren, dan dia ikut aku ke bilik loh untuk nyoblos. Nih buktinya

Shaina electionDia pun tau siapa pilihan mama dan papanya. Kalau aku sih kasusnya, kartu aku Shaina yang nyoblos. Saat itu aku serahkan ke Shaina mau coblos yang mana. Anyway, dan kita tidak pernah sama sekali, tidak 1 kata menjelekkan capres yang bukan pilihan kita. Mengistilahkan dengan kata-kata yang tidak baik, apalagi memfitnah hal-hal yang ga jelas bener apa engga. Masih anak-anak juga lah dia, ngerti juga engga.

How do I deal with it?

Balik fokus ke Shaina. Waktu ngomong gitu aku tanya sama dia, “trus Shaina bilang apa?” dia jawab “aku bilang, iiih engga kook”. Trus Kiti bilang apa? tanyaku. “Dia bilang iya tauu! Jokowi jahat loh ma”.

Kemudian aku menanamkan sedikit wejangan ke Shaina. Salah satunya menanamkan bahwa perbedaan itu biasa, tapi ga boleh menjelekkan satu sama lain. Ujung-ujungnya aku nanya, “terus akhirnya gimana?”, Shaina jawab “yaudah aku bilang, yaudah deh aku pilih Prabowo juga buat kamu”.

*DOENG!!$#@%^!-_-*

Akhirnya, wejangannya ditambah lagi dong ya. Salah satunya berisi kayak gini : “Shaina itu harus punya pendirian dong Na.. Harus punya prinsip, ga boleh bingung karena pilihan orang dan kemudian jadi anak yang lemah dan bisanya ikut-ikutan aja”

Kemudian dia nanya :

“Pendirian itu apa sih?”
“Prinsip itu apa ma?”

*kemudian emaknya pusing – ambil sikat wese terus ngosek wese sambil mikir* – yg mana ujung2nya ga bisa ngejelasin konsep itu juga.

“Mmm.. intinya Shaina harus tau maunya Shaina apa. Harus tau apa yang Shaina suka dan apa yang Shaina tidak suka. Masa kalau Shaina suka pink terus temennya suka kuning akhirnya Shaina jadi meninggalkan apa yang Shaina suka karena temen? Jadi maksain untuk ga suka pinkΒ  dan jadi kuning demi temen, walaupun Shaina ga suka? Berbeda itu gapapa kok. Dia suka apa, Shaina suka apa, ga perlu sama dan ikut-ikutan” jawabku sambil mikir keras dan berharap, semoga analogi ini bisa diterima.

“Terus nanti gimana kalau dia jadi ga seneng main ama aku, karena aku sukanya sama Jokowi? (balik lagi ke soal jokowi-prabowo -_-) Nanti aku makin sedikit deh temennya. Jadi aku bilang aja aku pilih Prabowo buat Kiti”.

Kemudian emaknya gigit jari nyari konsep lain untuk menjelaskan soal ini sambil nongkrong di wese. Setelah selesai nongkrong, udah mandi wangi siap pillow talk ama anaknya, eeh anaknya udah tidur *lap jidat*. Ujung-ujungnya tadi malem jadi ga sempet jelasin ke dia lebih lanjut dan ngobrol panjang soal konsep perbedaan, pilihan, prinsip dan pendirian tadi. Mau aku lanjutin hari ini niiihh… Lagi ngumpulin ide. Kalau ada ide, aku mau ya di share, mom & dad. Bantu aku gimana sih ngajarin yang benerrr. Tuluuuuungggg!!

Hmmmm
Bener-bener ya guys, mom, dad.. jadi orangtua itu ga gampang. Membentuk karakter anak, terlebih anak yang lembut bin sensitif kayak Shaina gini, Pe’Er luar biasaa. Apalagi dikala anak mendapat terpaan sosial yang diluar dari koridor yang kita ajarin.

Tulisan ini ga ada maksud sedikitpun untuk bicara politik, menjelekkan si ini dan mendewakan si itu. Tapi ini beneran terjadi. Ga direkayasa sama sekali. Kecuali soal kosek wese, sebenernya cuma keluar kamar, ambil tisu bersihin tangan yang kena tinta polpen doang sih. Terus balik lagi ngomong ama anaknya. I need time-outs sebentar untuk bisa mengumpulkan kata-kata yang pas saat aku di SHOCK THERAPY begitu. Soalnya kadang emaknya kan emosian, takutnya yang keluar kata-kata yang emosi.

Kadang aku mikir,
Apa dulu aku terlalu ngajarin toleransi yang over ke Shaina?
Apa aku terlalu menanamkan konsep sharing yang salah? (sehingga sampe pendirian juga dia sharing -_-)
Apa aku salah pernah mengenalkan kata “mengalah untuk menang dan hindari keributan”.

Kadang ngeliat Shaina yang seperti itu dengan karakternya dia, aku suka meratapi sendiri. Terlebih setelah aku dapet sharingan gambar ini,quotekids

Duh, bismillah. Semoga aku belom terlambat untuk ngajarin bahwa she had to stand up for her self. Stood up for what she think is right. And do what makes her feel good but still behave good.

Aku berdoa semoga ga ada Kiti – Kiti lainnya yang pikirannya terkotori oleh hal-hal ga penting begini. Amiiin.

PEKERJAAN RUMAH ORANG TUA!

15 Comments

  • biarpun beda… tapi aku jadi inget temannya keponakanku yang masih sd cha…
    dia baru dapet sepeda bekas dari saudaraku yang lain, terus pas lagi main2 sama temennya, temennya bilang: sepeda kamu bekas kan?

    “ga kok… ini sepeda baruku… dari cici a…”

    “iya. bekas cicimu pake, terus kasih kamu”
    hihihi…

    terus pernah juga diledekin sama temannya yang lain, “rumahmu masih ngontrak ya?”

    capeeee hahaha…

  • Shaina sejak masuk SD udah banyak ya ceritanya, while zikra belum ada cerita (khusus) apa2. Oh kecuali hari ini dia bilang dia berantem sama temennya, haduh -_-‘

    Iya nih anak2 jangan sampe lah ya ditanemin kebencian, kasian mereka juga nanti kegedenya bisa2 jadi dengan mudahnya benci sama orang yang menurut mereka gak baik atau orang yang menjadi saingannya dalam kompetisi. Shaina ini sweet banget ya cha, moga2 ke depannya shaina menemukan cara biar dia enak mengemukakan pendapatnya tapi juga tetep bisa berteman dengan siapa aja πŸ™‚

  • ya ampun… sesat banget itu ya… hahaha.
    kadang gak abis pikir juga sih ama ortu2 yang suka ngasih info2 yang gak bener ke anaknya.

    tadi pagi di berita ada cerita anak cewek 9 th dikasih belajar pake senapan otomatis dan karena dia gak kuat handle nya, akhirnya instruktur nya ketembak mati. dan itu kerekam sama video yang dipegang ortunya! dunia udah gila kan… ortu mana yang ngasih anak umur 9 th belajar pake senapan otomatis coba????

  • Nah, Cha… Mungkin seperti yang dibilang teman-teman di atas, anak seringkali nggak sengaja menyerap apa yang dia dengar atau lihat. Bukan maksud ortu mendoktrin hal-hal buruk tentang si capres.

    Soal anak stand up for their beliefs, sepertinya memang lagi usianya lebih memilih teman daripada apa yang dia percaya ya. Karena Cinta juga begitu di sekolah. Apalagi kalau karakter si teman lebih kuat dan dia suka sekali. Sementara sih aku bilangin pelan-pelan aja, karena nggak gampang bagi mereka melepas teman cuma karena prinsip. Yang penting mereka masih mau cerita sama kita. Takutnya kita terlalu maksa begini begitu anak lantas males sharing karena merasa, “Kok mama jadi begitu.” Been there done that soalnya hehehe. Semoga aja anak-anak kita jadi lebih kuat dan mandiri seiring waktu yah.

  • Hmm, orangtua memang selalu punya PR setiap saat. Tapi aku sepakat soal menerapkan pendirian sama anak selama koridornya dengan apa yang dia yakini dan tidak merugikan orang lain. Yang penting, komunikasi jalan terus dan memberikan pemahaman yang tepat, sehingga nggak muncul Kiti lainnya. *kasihan juga anak sekecil itu terdoktrin begitu. Tfs mak

  • Sama kayak jagoan saya Mak, meskipun masih 8 tahun, tapi kalo sarapan pagi kadang sambil baca Jakarta Post niruin papanya. Karena dikoran beritanya full dengan copras capres, diapun jadi tau banyak. Nah kebetulan kami semua pulang ke Semarang menjelang pilpres, silaturahmi ke eyangnya Ivo sekaligus juga mau nyoblos disana. Begitu tahu di rumah eyangnya ada stiker Prabowo Hatta, langsung dech Ivo kampanye biar eyangnya ganti coblos jokowi. Waduh, saya jadi ga enak dengan ayah saya. Dia bilang “Kakung jangan pilih Prabowo, dia nggak bagus” …… Omg, padahal kami ga pernah bicara politik dirumah karena suami orang asing dan ga punya hak pilih. Akhirnya saya ajak Ivo bicara, bahwa dia tidak boleh kampanye pada minggu tenang, nanti dimarah satpol pp lho. Kebetulan Ivo memang paling takut dengan satpol pp, karena dia sering lihat mereka bongkar bangunan ilegal dan tangkap pedagang asongan…… Hihihi …. untung ada yang ditakuti. Saya ingin menanamkan bahwa berbeda itu indah, termasuk Beda pilihan politik.

    Cicha Reply:

    hahaha aku ngikik lho ngebayangin Ivo kampanye Jokowi ke kakeknya yang pendukung Prabowo. Pasti emaknya panik deh haha *krn akupun ngalamin*. Dan lebih ngakak ngebayangin Ivo takut sama satpol PP krn bicara politik di minggu tenang.. aaaah anak2 itu emang hiburan ya bu :))
  • Waduh. Ini nantinya juga PR banget buat saya. Karena kerjaan kebetulan di politik, jadi gosipin politisi sama suami itu udah makanan sehari-hari.

    Masalahnya, bisa jadi anak saya nanti jadi korban kayak Kiti ya. Karena nguping pembicaraan saya dan suami (yang kadang emang bahas terang-terangan sampai ke sisi buruknya) dan anak belum ngerti soal politik, jadinya gitu, deh.

    Makasih, Mommy Shaina udah berbagi. πŸ™‚

    Cicha Reply:

    Hehe.. ya begitulah mak, kadang kalau lagi ada anak disekitar kita semua-mua harus dijaga. Aku juga sering kok ngomongin masalah politik dirumah (apalagi pas kemaren lagi rame-ramenya urusan pilpres ini). Tapi Shaina sekedar nanya2 aja & emang kita ga pernah berapi2 menjelekkan atau bicara kotor ttg itu sih, jadi influence jadi memihak ke 1 capresnya aja yang dia serap haha
  • persis kayak anak ibu kosku yg kelas 1 SD mak,kadang jelek2n P kadang jelek2in J….ternyata usut punya usut,dia dengerin neneknya yang ngobrol masalah itu,jadinya keserap deh sama anak…
    salam kenal mak πŸ™‚

  • waduw Cha, cemas juga yaaa klo sampe ada ortu yang nge-doktrin anaknya kayak gitu, dan berusaha mempengaruhi anak2 lainnya.

    Kayak comment gw di posting sebelum ini, mungkin udah waktunya Shaina mulai dirahkan untuk bersikap lebih tegas dan menyuarakan apa yang dia mau. Gw sebagai emak2 juga jadi khawatir klo anak terus2an mengalah dan ngikutin apa kata temennya, nantinya anaknya jadi berprinsip yang penting orang lain happy, atau malah jadi terus ikut2an, kehilangan jati diri.

    InsyaAllah Shaina jadi anak yang mandiri, yang tau gimana harus bersikap dan berpegang teguh sama pendiriannya yaaa…Bismillah:)

    entah doktrin apa sekedar anaknya denger2 terus di rumah. Soal doktrin2 ini sih actually udah ga ngaruh juga sih secara presiden terpilihnya udah ada, suka ga suka hehe.
    Iya Fik, Pe’er besar gw ini ngebentuk dia jadi lebih “strong” dan ga kehilangan jati diri nanti seiring dia dewasa. Semoga sih cuma sindrom anak-anak aja, yang ga mau mikir macem2 yang penting dia hepi, ga pusing & nambah banyak temennya haha.

Leave a Comment