Curhat Parenting

Baby Blues oh Baby Blues..

KATANYA, 5 dari 10 ibu sehabis melahirkan pasti merasakan sindrom baby blues ini (lebih common dibilang post-partum depression). Well, pastinya, syndrome ini juga menghampiri aku.

Baby blues modelnya memang macam-macam, tapi untuk aku baby bluesku lebih banyak ke rasa haru, rasa bahagia berlebihan dan ketakutan yang tak perlu (atau perlu ya?) Kalau aku, kira-kira ini yang terjadi :

  • Saat aku lihat Shaina bobo, aku menitikkan air mata. Dalam hatiku “Ya Allah, terima kasih Engkau telah menitipkan aku manusia cantik yang kukandung dari sebesar biji beras.. kini ia di depanku dan begitu sempurna,” ujarku kemudian diikuti banjir air mata yang luar biasa. Aku jadi takut melihat Shaina, karena takut akan nangis lagi.
  • Saat suami memasangkan lagu yang biasa diputar untuk menina bobok-kan Shaina waktu masih menggeliat-geliat di perutku, aku juga nangis sesenggukan. “Ya Allah, baru kemarin ia ada di dalam rahimku, hidup bergantung padaku, menendang-nendang dan menonjolkan diri di salah satu bagian perutku.. kini, Shaina sudah bisa hidup sendiri, tanpa aku, tanpa tergantung dari apa yang terjadi padaku.. Subhanallah,” lirihku dalam hati. Aku jadi trauma mendengarkan lagu-lagu yang biasa suamiku pasang untuk menenangkan perutku di tengah malam. Aku jadi takut mengingat-ingat..
  • Waktu aku melihat buku hamilku, melihat foto 3d Shaina waktu masih di dalam perutku, aku sesenggukan. “Ya Allah, waktu foto itu diambil, ia masih terselimutkan air ketubanku, memakan apa yang ku makan dan belum bisa bernafas seperti sekarang. Aku tak tega melihatnya. Baik-baikkah ia saat itu?” lirihku. Alhasil, aku belum berani membuka riwayat kehamilanku lantaran takut mewek lagi.
  • Waktu hari pertama kedua membawa Shaina pulang, saat aku terkantuk, aku menangis. Aku takut tak ada yang menjaganya, sementara suami dan mamaku sudah tertidur pulas. Desahan nafasnya membuatku terjaga sepanjang malam.. aku menangis. “Ya Allah, mohon jaga Shaina anakku saat aku tertidur. Jauhkan dia dari bahaya dan sehatkan dirinya,” bisikku dalam hati sambil memperhatikan mukanya, perutnya, lehernya. Aku takut ia terdiam, tak ada pergerakan.. Alhasil 2 hari pertama dirumah, aku terjaga 48 jam penuh!!
  • Saking aku terlalu memikirkan Shaina, aku sampai lupa makan. Untungnya ada ibuku yang selalu menjejalkan aku dengan makanan bergizi demi kualitas ASI yang kuhasilkan untuk Shaina.. Sempat, saat mamaku pergi, suamiku tertidur terkantuk, lupa mengingatkan aku makan. Saat tiba makan malam (makan siangku terlewatkan), aku baru menyadari bahwa aku lupa makan dan minum susu ibu menyusui. Alhasil, aku menangis gegerungan, aku takut ASI ku berkurang bahkan berhenti dan tak berkualitas lantaran tak makan..
  • Aku menyadari betapa suamiku orang yang sangat-sangat baik dan sempurna untukku. Aku ingin suamiku selalu berada di sampingku. Melihat suamiku yang menggantikan diapers Shaina, menggendongnya sambil menatap anaknya dalam-dalam, juga membuatku bersyukur. “Ya Allah, terimakasih engkau telah mempertemukan aku dengan suamiku yang baik dan bersama-sama kami dititipkan Shaina, anakku yang sempurna.” Alhasil, setiap dia mengecewakanku dengan meninggalkan aku tidur saat ku terjaga, meninggalkan aku sendirian saat dengan Shaina atau ia mangkir alias telat pulang dari kantor, aku menangis. Aku takut ia tak lagi memperhatikan aku.. kenapa dia cuek sekali padaku? Tak tahukan dia, berat bagiku bila harus menjalani ini sendiri?

Itulah beberapa sebab Baby Blues ku… Kira-kira itu yang membuatku kadang menangis tak tentu.. aku sedang super sensitif. Tapi Alhamdulillah, makin kesini aku makin kuat sedikit. Tidurku sudah lumayan cukup (minimal dapat 5 jam dalam 24 jam), melihat Shaina tak lagi membuatku mewek, dan sedikit-sedikit aku sudah berani melihat riwayat kehamilanku. Hanya saja, aku masih sangat sensitif dengan suamiku.. Tapi alhamdulillah, untung ada mamaku, yang memang kadang suka bikin panik juga, tapi selalu melayani aku.. memback-up aku.. Makasih ya mama..

Aku jadi banyak menyibukkan diri di depan laptop, berinternet saat Shaina bobo. Alhamdulillah cukup menghabiskan waktuku dan membuatku sedikit relax, karena bisa curhat ke diriku sendiri (dan temen-temen yang baca juga sih..). Meluapkan semua, cukup melegakan. 

Moga sindrom ini tetap membuatku kuat, bukan malah membuatku tersungkur. Itu yang selalu kutanamkan dalam hati..

7 Comments

Leave a Comment