Seputar ASI Shaina

Berjuang Demi ASI..

Air Susu Ibu (ASI) katanya memang paling bagus, mudah dicerna apalagi untuk bayi seumur Shaina yang belum ada sebulan, meningkatkan daya tahan tubuh si baby, lebih sehat dan.. pokoknya yang bagus-bagus deh.

Oleh karena itu, semenjak hamil, aku memang bercita-cita pengen banget ASI eksklusif.. ngasih Shaina ASI dari dia melek pertama sampai 6 bulan umurnya, itu cita-citaku. Tapi sayang banget.. 3 jam setelah dilahirkan, Shaina yang berhasil menyusui dini dalam waktu 20 menit memang menunjukkan tanda-tanda minta minum.. (aku ga tau bener atau engga, yang pasti dia nangis ngejer, mulutnya melet-melet dan memperlihatkan semua tanda bayi “lapar”). Karena aku terkapar di ruang observasi nyaris 24 jam dan tidak berdaya, alhasil suster meminta izin papanya untuk boleh memberi susu formula ke Shaina, lantaran dia nangis terus kelaparan *katanya*. Kontan suamiku tak tega dan memperbolehkan suster memberi susu formula ke Shaina.

Gagal lah ASI Eksklusifku 🙁 .. pikirku saat suami tercinta melaporkan hal ini saat aku masih di ruang observasi.

Saat aku kembali ke kamar dan Shaina sudah dibawa ke kamar, tentunya aku berjuang keras.. dengan sayatan perut masih berasa mengiris-iris, aku tertatih duduk dan mencoba menyusui Shaina. Memang, hari-hari pertama, ASI ku masih sangat terbatas. Alhasil, Shaina yang memang kuat sekali minum susu sering ngamuk kalau menghisap puting yang tak mengeluarkan susu deras layaknya botol dengan isi susu formula yang dikasih suster sehari sebelumnya. Ini membuat semuanya stress. Aku, tentunya yang merasa gagal ASIx, hingga mertuaku yang tak tega melihat cucunya menangis keras dan gedek-gedek di depan putingku seperti menolak puting.

“Dia marah tuh, t*** kamu belom ada airnya juga, udah aja, minta suster bikinin susu formula, kasian dia kelaparan,” ujar mama mertuaku sedikit keras, karena panik.

PAKK..!!! Serasa ditampar hatiku.. gagalkah aku menjadi ibu yang baik? Memberi ASI ke anakku saja aku tak mampu.. anakku saja tak mau menghisap putingku.. mirisku dalam hati. Aku yang sedang super sensitif lantas menepis omongan mertuaku dengan nada keras (maaf mama, abis aku merasa mama nggak ngedukung aku) dan kuteruskan dengan usahaku menyusui bayiku. Tapi lama-lama, tak tega juga aku.. kembali Shaina diberi formula oleh suster, lantaran semua panik.. akupun ikut panik.

Itulah gambaran hari-hari pertama aku dan Shaina belajar menyusi ASI. Formula masih memback-up kekurangan ASI ku saat itu. Awal-awal, komposisi ASI : Formula masih 50:50 (aku tau karena kuperas ASIku lantaran putingku lecet, jadi cc-nya ketauan), setelah di rumah, komposisi meningkat menjadi 60:40, 70:30, hingga akhirnya Alhamdulillah, aku bisa memenuhi kebutuhan anakku full dari ASI ku setelah Shaina berumur 8 hari, hingga sekarang.. dan Shaina terjauh dari ‘kuning’ lantaran dari lahir hingga 2 minggu usianya, ia belum ketemu matahari pagi.. Ujan terus! Makanya minumnya harus banyak.

Oiya, saat ditimbang waktu Shaina imunisasi, beratnya bertambah 400 gram dari sebelum pulang rumah sakit 🙂 Tapi mama masih rancu, soalnya dalam seminggu, Shaina masih dibantu formula kan? Paling tidak, Shaina bebas dari bilirubin tinggi.. no problem.

Memang perlu perjuangan untuk menghasilkan ASI berlimpah untuk si baby tercinta. Makan terus-terusan, minum susu menyusui 2x sehari, minum suplemen untuk memperbanyak ASI, memijat payudara sesekali, minum sari kacang hijau.. memaksa diri untuk tidur atau istirahat sejenak, pokoknya segala upaya kulakukan demi ASI untuk Shaina. Kadang rasa begah, makan sayur-sayuran yang tak terlalu kusuka, tapi demi Shaina, demi ASI ku untuknya, apapun kulakukan.

Alhamdulillah, aku merasa kini ASI ku berlimpah (insya Allah). Indikatornya, selain BAB dan pipisnya Shaina banyakk, aku harus ganti baju minumal 4 kali sehari lantaran bajuku habis lepek terembes ASI setiap harinya. “Kok gak pakai bra dan breast pad?” jawabannya, putingku perih, jamuran kalau ketutup begitu.. alhasil kubiarkan terangin-angin sambil kulambari dengan alas ompol.. (kulilitkan seperti kemben).. alas ompolpun habis basah, dengan minimal 5 alas ompol sehari. Cukup repot memang. Tapi benar-benar aku tak bisa pakai bra terlalu lama, terlebih dengan breastpad. Selain itu, kini, sekali peras (pompa ASI), minimal 100cc sudah bisa kuhasilkan. Saat aku benar-benar fit dan ready, 150cc sekali pompa pun rasanya tak terlalu sulit..

Ah, apapun demi Shaina.. mama berjuang untuk kamu nak.. Memberi kualitas ASI yang baik untuk Shaina, kini menjadi fokus mama, agar Shaina sehat, gak gampang sakit dan bisa tumbuh jadi anak yang cerdas. Amiinn

6 Comments

Leave a Comment