Curhat special events

Selamat jalan lebih dulu, Ayahanda tercinta..

opashaina
Written by Cicha

Bram ZakirInnalillahi Wa’innailaihi Rajiun..

Akhirnya, ayahanda mama, Ibrahim Gidrach Zakir / Bram Zakir atau sering mama sebut sebagai ‘opa Shaina’ berpulang. Setelah Opa berjuang luarr biasa dengan rasa sakit dan penyakit yang diidapnya, Allah sayang sama almarhum dan segera menyudahi rasa sakit yang dideritanya 31 Januari 2009 dini hari jam 01:50 di RS MMC, kamar 412.

Alhamdulillah.. walau mama nyaris seumur hidup tidak pernah hidup seatap dengan beliau (almarhum dan mamaku berpisah saat umur mama 2 tahun), tapi persis di hari terakhir hidupnya, mama mendampingi beliau dari siang hingga hampir tengah malam di hari terakhir itu. Mama genggam tangannya. Mama peluk badannya. Mama elus kepalanya. Mama curahkan segenap cinta seorang anak kepada orang tuanya. Tak ada rasa sungkan, takut atau apapun.

Sebelum di hari terakhir itu, beliau tidak bisa tidur selama 5 malam. Mungkin tidur 2 menit kemudian bangun. Itu semua karena rasa sakit yang luar biasa yang menggerogoti raganya. Tapi di hari terakhir itu, almarhum sempat 2x tertidur selama kurang lebih 10 menit memegang erat pergelangan mama. Ngorok.. itu ciri khasnya.

Sayangnya memang, mama tidak sempat menemani beliau di akhir nafasnya karena anak mama juga menunggu mama dirumah.

Padahal di hari itu, almarhum sempat minta, “udah kamu ngga usah kemana-mana ya. Disini aja!” Dan waktu mama pamit pulang jam 10:45pm, beliau seperti linglung dan bertanya, “jadi kamu ngga ada disini waktu ayah DITINDAK?”   — waktu itu malamnya memang akan ada tindakan transfusi darah karena almarhum kehilangan banyak darah lewat pupnya– Entah itu pertanda.. dengan kata-kata “DITINDAK” itu sendiri. Mama bilang, “Shaina dirumah menunggu.. insyaAllah besok aku temenin ayah lagi ya.. sekarang bobo aja, tutup matanya biar badannya enakan”, kata mama. Dia mengangguk. Mama ucapkan “assalamualaikum”, blio menjawab lantang, “Wa’alaikum salaam”. Padahal, saat perjalanan pulang dan mama telfon kerumah ternyata Shaina sudah tidur dikelonin papa. Jadi sebenernya, walau mama tidur di Rumah sakit dan pulang jam 7 pagi pun Shaina masih tidur.

Ya, hingga detik terakhir di akhir hayatnya, almarhum masih ingat, masih sadar. Walau seringkali tercetus omongan tak berarti, ngaco. Mungkin efek obat atau efek tidak tidur lebih dari 4x24jam itu. Tapi selebihnya, sadar. Bahkan adek mama cerita, waktu almarhum melihat dia menangis sambil membisikkan dzikir, almarhum bertanya, “lho, kenapa nangis kamu ran? Ada apa?”. Seakan almarhum menyatakan, ini tidak ada apa-apa, walau ia sambil meronta karena nafasnya sesak sekali saat itu. sepertinya darah pecahnya sudah perlahan memenuhi parunya.

Jadi, hanya selang sekitar 3 jam mama pulang, almarhum pergi.

Menyesal? Sempat. Tapi, mama ngga mau menyesali. Semua terjadi pasti ada alasannya. Walau jujur ada sedikit penyesalan karena mama tidak bisa memenuhi keinginannya. Tapi, mama ambil hikmah dan sesuatu yang positif untuk diri mama sendiri.. mungkin bisa bayangkan betapa histerisnya mama melihat ayahanda pergi. Mendengar proses almarhum menghembuskan nafas terakhir saja mama ngga tega, bagaimana mama menyaksikannya? Mungkin trauma dan sedih mendalam lebih menggerogoti jiwa mama. Begitu, mungkin. Sementara mama juga harus fokus ke Shaina. Menghasilkan ASI untuk anak mama, menyatukan jiwa yang sehat untuk mendampingi anak mama di masa tumbuh kembangnya.

Sayang, mamanya mama / oma Shaina tidak sempat bertemu almarhum. Sebelumnya oma shaina memang sempat meminta almarhum ‘menunggu’ karena tanggal 2 ini Oma akan tiba di Jakarta. Namun, setelah mama ceritakan keadaan almarhum, oma mulai mengikhlaskan. Saat almarhum pergi, mantan istrinya itu sementara mencium hajar aswat 2x.. 1x dengan menyebut, “Ya Allah, ini untuk Bram”. Kemudian Oma pun mengumandangkan yassin di depan ka’bah untuk almarhum.

Sakit apa almarhum? Kanker hati. Ada sel kanker yang sudah berdiameter 10 cm yang bertengger di tengah hatinya. Ada hubungannya dengan limphoma cancer 4 tahun lalu? Tidak. Ini kanker lain jenis. Selain itu, radang usus. Ususnya luka, ada abses dan terakhir absesnya pecah sehingga 10 menit sekali almarhum rasa mulas dan bab darah segar, hitam. Sesekali almarhum juga memuntahkan darah itu dari lambungnya. Selain itu ada gangguan paru-paru. Komplikasi komplit. Bisa dibayangkan betapa tersiksanya beliau selama kurang lebih 1 bulan diatas tempat tidur kamar 412 itu.

Ah tapi, sekarang sakit itu sudah sirna. Sudah tidak terasa. Jiwanya sudah meninggalkan raganya yang rusak hancur luluh lantak. Jiwanya sudah pergi dan akan pulang ke pangkuan Sang Pencipta di alam kekal sana.

Hari pertama ditinggal berat rasanya hati, jiwa dan raga mama.. semuanya seperti menolak, jiwa rasa melayang. Perih hati membayangkan sakit yang almarhum rasa. Sedih luar biasa menyelimuti hati mama. Keram kepala. Keram mata. Keram hati. Keram rasa. Keram pikiran.

Tapi disaat mama menulis ini, di hari ke 2 almarhum pergi.. mama sudah bisa tenang. Mama yakin ini yang almarhum inginkan. Semoga keikhlasan hati kita keluarga yang ditinggal mempermudah perjalanan almarhum ayahanda di tempat yang kekal di alam sana.

Sebagai anak, mama berusaha untuk ‘menyelamatkan’ beliau dalam perjalanan pulangnya. Karena, Islam selalu mengumandangkan, “Yang akan menyelamatkanmu nanti adalah ilmu yang bermanfaat dan doa anak-anakmu yang shaleh”. Mama belum shaleh.. tapi doa dan cinta kekal mama untuk ayahanda teriring menemani kepergian beliau.

Selamat jalan lebih dulu ayahanda.. Semoga kelak kau telah tahu betapa rasa sayang dan cinta ini kekal selalu untukmu..

mama cuci kaki opa

mama saat mencuci kaki opa saat prosesi siraman mama sebelum menikah

(foto lain menyusul)

28 Comments

  • turut berduka cita ya cha. Smoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan dan tentunya smoga amal ibadah beliau diterima di sisiNya.

  • Innalillahi wa inna illahi rojiun.. turut berduka cita ya mam, sori aku baru online ni jd baru baca.
    Semoga alm mendapat tempat yang pantas di sisi Allah.

    mom, aq tarok emailku di sini aja ya… 🙂

  • Turut berduka cita yang sedalam2nya untuk Cicha dan keluarga… semoga arwah almarhum dilapangkan jalannya di sisi Allah SWT, amin… yang tabah ya Cha..

  • Innalillahi wa innaillahi rojiun
    Turut berduka cita atas berpulangnya ‘opa shaina’
    smoga arwahnya diterima disisiNya…
    diterima segala amal ibadahnya
    diampuni segala dosa2nya
    dilapangkan kuburnya
    amiiin

  • sampe berkaca-kaca bacanya mba. dah liat kalo notification postingan baru lewat plurk, tapi baru sempet baca.

    saya sekeluarga turut berduka cita atas pulangnya opa shaina ke pangkuanNya. sempet ikut terharubiru baca update blio di plurk nya mamashaina.

    semoga beliau diterima di sisiNya dan bagi keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kesabaran dalam melewati cobaan ini.

    buat shaina, cheers! oma dateng ^,^

  • Innalillahi wa inna illahi rojiun…..

    Kamis ekeluarga mengucapkan turut berduka cita, semoga Almarhum diterima di sisi-Nya. Banyak baca doa dan yasin untuk almarhum. Yang sabar menerima cobaan ini ya. Aku turut merasakan kepedihan mu cha, papaku meninggal pas aku 12 tahun 🙁

  • innalillahi wa inna ilahi roji’un..
    turut berduka cita. Semoga amal & ibadah beliau di terima disisinya. Untuk Chicha sekeluarga yang tabah ya… 🙂

  • Inalillahi Wa inna ilaihi Rajiún…
    Turut berdukacita ya mbak
    Semoga arwah beliau diterima di sisi Allah SWT
    dan keluarga yg ditinggalkan senantiasa diberikan ketabahan, Amien

  • Inalillahi Wa inna ilaihi Rajiún…

    Semoga arwah Opa Bram diterima di sisi Allah subhanahu wataála dan mendapat tempat yang baik di sisi NYA.
    Semoga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan kekuatan selalu.
    Dear Cicha, I’m so sorry for your Beloved father.
    ya Allah…berita ini bikin aku makin sayang sama Papa dan mama di rumah..bersyukur masih dikaruniai Orangtua….Amiin…
    Cicha sabar ya, take care…
    Love,

  • kami sekeluarga turut berduka cita, Insya Allah almarhum dimudahkan perjalanannya dan mendapat tempat dalam kasih sayangNYA. dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberiNYA keikhlasan dan kesabaran yang berlimpah,..

  • Cha …
    Turut berduka cita ya …
    Semoga arwah ayahanda Cicha diterima di sisi Allah SWT, dan kita akan beroleh kesempatan untuk kembali bersama lagi.
    Amin …

  • innalillahi wa inna illahi rojiun..

    ayah n ibu juga farissa turut berduka cita sedalam-dalmnya atas berpulangnya “opa shaina” .semoga almarhum Opa shaina diterima amal ibadahnya..keluarga yang di tinggalkan di beri ketabahan.Nenek Umi farissa ( mamah aku ) tepat 2 tahun yang lalu meninggal,sakitnya pun kanker hati..

    akan ada hikmah di balik semua ini cha,Allah swt yang punya rencana indah buat Hamba_NYA.

  • Kullun nafsin dzaaiqotul maut'(QS 3:185)

    saya dan keluarga turut bela sungkawa atas kepulangan “opa shaina” ke sang Kloliq, inalillahi wa inna ilaihi rooji’un. Shaina, “opa-mu” adalah sosok yang kami hormati baik sebagai sesepuh, orang tua, sohib dan apapun bentuk hubungan itu. bahkan bukan hanya itu, beliau adalah “ikon” dan “inspirator” bagi banyak orang.. tabahlah kamu, bila suatu hari kelak, kamu dewasa, kamu bisa menyaksikan nilai-nilai luhur yang beliau perjuangkan adalah warisan yang tak habis digali bagi banyak orang di negeri ini.

    meski hanya beberapa saat kenal “opa-mu”, tapi aku bisa merasakan getar ketulusan hatinya memikirkan nasib bangsa ini. aku masih ingat di awal 2006 saat beliau baru recovery dari sakit getah bening-nya, dan ku ajak ke suatu tempat di lereng gunung ciremai guna penyembuhan alamiah, beliau diantaranya bilang: kapan ya met bangsa ini sadar dan mempunyai harga diri.

    sehari sebelum beliau masuk mmc, aku masih bisa bercanda dan ngomong banyak.. tapi kamis malem itu, aku ketemu beliau dah benar2 dah gak bisa ngomong.. bingung. Shania, aku lihat mamumu ini, di kantin mmc, dia adalah seorang yang tegar.. contohlah dia, kesholehan adalah ketegaran, kecintaan dan keihklasan seorang anak. nanti bila dewasa kau warisilah sifat2 itu.

    semoga Alloh memberimu keutamaan, hidayah dan ridho-Nya. Amin

    salam dari sahib “opamu”

  • Innalillahi…turut berduka cita. Ayah mertua almh juga ‘pergi’ karena kanker hati Cha, ngga tega kalau dengar cerita penderitaannya dulu. Semoga amal ibadah beliau diterima disisi Tuhan.

  • Innalillahi wa inna illahi rojiun…..
    kami sekeluarga ikut berduka cita mba….
    semoga alhmarhum Opa Shaina diterima amal ibadahnya, dilapangkan kuburnya….amin

    Dan buat Mba Chica dan keluarga….semoga diberi katabahan, kekuatan dan kesabaran dalam menerima cobaan ini.

  • innalillahi wa inna ilaihi rajiun

    turut berduka cita mamashaina, semoga perjalanan almarhum menghadap sang Maha Kuasa diberi kelancaran, diterima segala amal sholehnya dan diampuni segala dosa2nya.. amiin…

    *yang sempet ngikutin gundahnya mamashaina lewat plurk

  • innalillahi wa inna illahi rojiun..
    aku n keluarga turut berduka cita ya cha…
    semoga almarhum diterima di sisi Allah
    semoga semua yang di tinggalkan di berikan ketabahan..Aminnn
    ini mungkin jalan yang terbaik buat almarhum..

Leave a Comment