Pregnancy Shaina special events

The day Shaina born..

lastdaypregnant220
Written by Cicha

(This stories contains emotional feelings and traumatic moment for several people. Ini hanya sebuah ilustrasi cerita yang kurasakan, tidak ada maksud untuk menakut-nakuti, apalagi membuat Anda trauma. If you’re pregnant, prepare yourself, dont get too emotionally envolved. Kasus orang beda-beda kok. πŸ™‚ )

Pagi itu, 10 Februari 2008, aku bangun jam 8.00am. Seperti biasa, aku ngitung-ngitung, kapan si baby di perut ini ngajak berjuang bareng, secara due date alat USG dokter bilang sudah lewat 2 hari jadi semuanya ikut was-was nungguin.

Gimana kalau dia masih betah seminggu – dua minggu lagi ya. Hiks, lamanyaa.. begitu pikirku dalam hati . Oma dan opa dari Gorontalo udah dateng nunggu datangnya cucu pertamanya, mama juga udah ambil long break dari nge-base di Jeddah untuk nungguin si baby lahir.. kesel juga tiap hari mereka ngomong sama perutku, “baby, ayo dong keluar, semuanya udah nungguin kamu nih.” *kok maksa sih, kesian kan anakku*

Tapi pagi itu, semua berjalan seperti biasa. Jalanku yang tertatih-tatih, nyeri tulang pubis yang teramat sangat dan susah jalan masih kujalani. Rutinitas mules dan BAB di pagi hari juga masih kujalani seperti biasa.. Tapi sehari sebelumnya, aku dijejelin air rendeman rumput fatimah yang satu gelas kulahap abis (demi memperlancar persalinan *katanya*). Ah, belum tentu berhasil langsung juga kan, ujarku dalam hati.

Saat rutinitas BAB kujalani, tiba-tiba tulang pubisku bunyi “krek-krek” kayak ditekan dari dalam. Seiring dari situ pula, mulesku bertambah.. Tapi belum ada feeling apa-apa, paling si baby lagi seru aja di dalam dan dibarengi mules pengen BAB, jadinya begini, ujarku lagi dalam hati.

But, no.. today is the day!! Mulesku bertambah parah, aku tau ini bukan biasanya karena sakit mules kali ini mampu membuatku menitikkan air mata sambil berusaha teknik bernafas yang kupelajari saat senam hamil.

“Mama, popop, kayaknya aku mules mau melahirkan deh, sakit bangettt…,” aku memanggil mama dan suamiku sambil tertatih keluar dari kamar mandi.

Kontan mama dan suamiku panik. “Masa sih?” “Gimana rasa mulesnya?” “Sakitnya gimana? Gak seperti biasanya?” pertanyaan bertubi-tubi itu tak mampu kujawab. Hanya desahan nafas panjang yang bisa kuperlihatkan. sambil sesekali menitikkan air mata menahan nyeri yang teramat sangat. Saat jalan lahirku menitikkan beberapa cairan berbau amis dan berwarna putih agak butek, baru aku yakin. Yes, I’m in labor process.

Mama dan suamiku pun siap-siap, ponsel mereka sibuk nelpon kesana kemari untuk memberi kabar menegangkan ini. Sebelum berangkat aku bahkan sempat mandi karena khawatir saat melahirkan merasa ngga nyaman lantaran belum mandi. Hanya satu yang kulupa.. sarapan.

Last day pregnant.. di ruang persiapan persalinanSampai di RSIA Tambak, kira-kira sekitar jam 10.20, aku tak peduli, hanya pastinya sekitar itu. Sampai di sana, turun dari mobil saja rasanya sudah tidak mampu. Mulesku sudah di taraf 10 menit sekali dengan durasi mules yang lumayan panjang.. kira-kira 40 detik sampai 1 menit. Aku nunggu mules selesai baru kuberusaha tertatih duduk di kursi roda yang membawaku ke ruang persiapan melahirkan. Disana bidan dan suster sudah standby.

Sudah berapa minggu ibu? Pasiennya siapa? sudah pecah ketuban? Berapa sering sakit mulesnya?

Ah, lagi-lagi sambil meringis menahan sakit, aku jawab satu per satu pertanyaannya dengan susah payah, namun terbata-bata saat kontraksi mules datang menyerang. Kebetulan dokterku sedang menghandle pasien induksi yang sudah diruang persiapan dari jam 9 malam sebelumnya, jadi dokter bisa langsung memeriksa keadaanku.

“Udah bukaan 3 nih, kurang lebih 4-6 jam lagi ya,” begitu ujar dokter.

WHAATTT?? Sakit begini suruh nahan 4-6 jam? Ya Allah, kuatkah aku? Tapi demi kebahagiaan semuanya, dan demi babyku yang sudah ingin melihat dunia, Insya Allah akan kutahan.

Saat kontraksi berhenti, aku sempat meminta makan. “Aku mau makan, cepeettt!! Aku takut gak kuat ngeden,” ujarku ke suami dan bidan. Tak lama kemudian, makanan rumah sakit sudah siap di depanku. Dengan susah payah menunggu jeda kontraksi, saat ‘tenang’, aku sempat melahap 5-6 suap nasi yang akhirnya kutinggalkan lantaran jeda kontraksi bertambah sedikit. Melihat ini, bidan langsung bingung, “udah mules lagi ibu?”, “sekarang mules lagi?”, “udah berasa kontraksi lagi?” begitu pertanyaan bidan bertubi-tubi yang kujawab dengan meringis seraya tubuh dan rambutku basah kuyup menahan rasa nikmatnya kontraksi.

Cek bukaan. “Udah bukaan 5 nih,” ujar dokter Irvan. “Cepat juga proses persalinannya.. kita liat satu jam kedepan ya,” tandasnya.

Di saat itu aku sudah tak tahan menahan mules. *Kalah aku dengan sakitku* Dengan suara meringis aku bisikkan suamiku, “kalau aku udah nggak kuat banget, aku mau ILA aja, I want epidural.. boleh ngga sayang? Aku takut nggak kuat,” pintaku melas dan lemas, lunglai. Suamiku langsung meminta penjelasan dokter tentang ILA, apa efeknya pada bayi kita nanti, berapa harganya dan lain sebagainya. “Harga udah nggak penting sayang, kalau mau ILA, kita ILA aja ya,” bisik suamiku setelah mendapat penjelasan.

Setelah lewat setengah jam, aku langsung positif meminta ILA lantaran sakit luar biasa yang benar-benar tak tertahankan dan lebih sering. “Wah, udah bukaan 7,” ujar dokter. “Kalau kemajuan persalinannya begini, paling lama 2-3 jam deh udah bisa lahir.”

2 – 3 jam rasanya tak kuat untuk badanku menahan nyeri. Miris rasanya aku dengan diriku, dimana ibu-ibu lain berhasil melewati persalinan natural, normal tanpa obat-obatan, aku begini aja sudah minta bius. “Cemen,” cibirku ke diri sendiri. Tapi kuabaikan. Yang penting aku bisa melahirkan anakku dengan tenaga dan bisa lebih efektif, sisi positifku bicara.

Bidan dan dokter langsung menelpon dokter anastesi. Beliau sedang ada keperluan pribadi dan meminta aku menunggu 45 menit paling cepat, paling lama 1 jam. Satu jam lebih baik dari 3 jam. Dengan sabar aku menunggu. Aku langsung diambil darah untuk cek hepatitis dan cek kesehatan lainnya sesaat sebelum persalinan. Ya Allah, sakit bawah, sakit tangan.. tapi kutahan, demi kesehatan anakku.

Setelah itu, aku langsung dibawa ke ruang persalinan ditemani suami. Tak lama setelah itu, (aku tak tau berapa lama persisnya) dokter masuk lagi dan mengecek bukaan. Astaghfirullah.. dengan mules dan kontraksi yang teramat sangat, dokter harus memasukkan tangannya ke dalam jalan lahir anakku.. tak kuat rasanya. Tapi kutahan dengan nafas panjang dan menghembuskannya dari mulut, seperti yang kupelajari saat senam hamil. “Bukaan 8 ya, ok kita siap-siap deh..” ujar dokter.

Tak lama kemudian, suster membawa berbagai peralatan masuk ke dalam ruang persalinan. Untuk aku, dan untuk si bayi. Melihat tempat bayi itu, aku langsung menitikkan air mata. “Sebentar lagi aku akan bertemu anakku.. sabar ya sayang.. mama juga rindu pengen ketemu,” bisikku dalam hati sambil mengeluskan tanganku ke salah satu bagian yang menjendul di perutku. Ia merespon dengan kontraksi. Dan aku merespon dengan meringis, tak tahan untuk mengejan.

Akhirnya dokter anastesi datang. Saat ingin dibius, aku sudah tak kuat duduk, sementara obat harus di masukkan lewat tulang belakang. Dengan susah payah aku duduk dan setelah obat bekerja, baru aku bisa tersenyum sedikit.. perlahan-lahan kucuran keringat yang membasahi sekujur tubuhku kering, lantaran tak ada lagi sakit yang berarti.

“Bukaan 9, hampir lengkap dok,” lapor bidan ke dokter Irvan. Tapi setelah itu, sang bidan berbisik-bisik dan dokter Irvan akhirnya memeriksa ulang. “Ok ibu, berdoa aja biar persalinannya bisa maju ya prosesnya,” ujar dokter.

Ah, udah bukaan 9 berarti sebentar lagi, kataku. Jam menunjukkan pukul 15.00. “Kontraksi sudah 3 kali dalam 5 menit. Wah, kalau nggak pakai ILA, ibu mungkin udah nggak tahan sakitnya ya,” ujar bidan. Detak jantung anakku OK, tak ada tanda pelemahan atau percepatan yang menunjukkan ia stress.. “Kuatnya anakku, tak seperti aku,” ujarku dalam hati.

Setengah jam setelah pemeriksaan dalam terakhir, dokter masuk kembali dan memeriksa bukaan. Kali ini sama sekali ku tak merasakan apa-apa.. tak harus berjuang. “Ibu, ini anaknya belum ngonci, belum turun sempurna. Perut ibu bentuknya sudah ngga keruan karena ketuban sudah banyak berkurang (saat aku mengejan dibukaan 7, aku memang merasa basah dibarengi dengan lendir darah yang keluar), ada 2 pilihan, ibu mau vakum aja tapi dengan resiko belum tentu bayi bisa turun sempurna juga, atau kita operasi aja ya, lebih nggak ada resiko. Kesian adenya,” ujar dokter. Ya Allah, caesar juga akhirnya aku.

C-Section, Complication, Bleeding & Risks

Di RSIA Tambak, ruang operasi tidak boleh dimasukki oleh keluarga, hanya dokter-dokter yang berkepentingan saja yang boleh masuk. Dengan menguatkan hati, aku dicium ibuku dan suamiku sebelum digiring ke ruang operasi. Aku menitikkan air mata lagi, sambil berdoa, “Ya Allah, selamatkan aku, sehatkan anakku dan kuatkan keluarga yang mencintai aku.”

Di ruang operasi aku kembali di bius. Jadi 2x, proses saat ILA dan kini bius untuk operasi besar. Saat proses bius selesai, aku merasakan mengantuk yang teramat sangat. Kuceritakan ini pada dokter, dan mereka menyuruhku untuk tidur saja bila sudah sangat mengantuk.

Dentingan gunting, pisau dan besi entah apalah berngiang-ngiang membuat bulu kudukku tambah berdiri. Bergidik aku, jiper. Tak lama setelah itu, aku serasa pingsan. Sempat kutengok ke kiri, jam besar di ruangan itu menunjukkan pukul 16:00 kurang sedikit, suara di sekitar ruangan menjadi samar-samar. Dalam hati kuberbisik, “lebih baik tidur daripada mendengar dentingan besi membuatku makin tegang. Tapi aku ingin mendengar tangisan pertama anakku.. entah ada atau tak ada tangisan, aku ingin tau.”

*Blank*. Aku lemas tiada tara. Tak lama setelah kusadari kudengar tangisan, “Weeeekk”. Alhamdulillah, sebutku dalam hati, tapi tak khusyuk, lantaran obat membuatku serasa mabuk. “Perawan ya? Bu, anak perawannya tuh udah lahir,” kata dokter anastesi. Jam 16:45 saat itu, saat Shaina lahir.

Bayiku tapi tak langsung ditaro di dadaku, padahal aku sudah meminta Inisiasi Menyusui Dini yang kukira bayiku akan breast crawling, tapi tidak, entah kenapa (belakangan ku tahu perutku dibuka cukup lebar ke atas, terjadi pendarahan dan anakku 50cm tingginya, keadaan yang tak memungkinkan). Tak lama setelah itu, dua suster membawa ia padaku.. aku menciumnya setengah sadar dan membiarkan suster memegang kepala anakku ke arah dadaku untuk inisiasi menyusui. “Wah, udah dapet putingnya tuh bu… anaknya pinter, gak sampai setengah jam,” kata suster. Setengah jam rasanya seperti baru sedetik lalu, pikirku yang sedang ‘mabuk’ bius.

Setelah itu, suster meminta izin membawa anakku untuk di observasi. Aku mengizinkan, lagi-lagi sambil setengah sadar. Tak lama setelah itu, terdengar samar-samar suara dokter, “Ini pantau terus ya, saya sumpel pakai kasa aja biar ngga ngocor. Ku tolehkan kepalaku ke kiri, jam menunjukkan pukul 18:50, jam 7, dari anakku lahir jam 4:45.. apa yang terjadi?

“Tolong terus massage perutnya supaya kontraksinya bagus,” dokter menginstruksikan ke beberapa bidan dan suster yang ada di ruang operasi. Setelah itu, aku dibawa ke ruang pemulihan. “Ibu, minimal 24 jam disini dulu ya, kita harus pantau kondisi ibu,” kata bidan ke aku yang saat itu sedang menggigil kedinginan.

di ruang observasi.. terjaga sampai subuh24 JAM disinii??? Aku ingin segera mendekap anakku.. bertemu keluarga tercintaku yang menunggu di luar ruang operasi! Aku yakin mereka concern, ingin melihat keadaanku. Kenapa aku harus disini 24 jam?? “Suster, bidan, aku minta suamiku masuk kesini bisa kan?,” lirihku. “Maaf ibu, ngga bisa, ruang pemulihan ngga bisa dimasukkin keluarga. Nanti ibu terganggu,” ujar bidan. WHAATT? terganggu apanya? Justru aku terganggu membuat keluargaku bertanya-tanya.

“Ambil darahnya, rhesusnya yang jelas, call PMI segera, jangan kelamaan, kita ngga tau apa yang bakal terjadi,” suara dokter teriak dari balik bilik ruang pemulihan. Tak lama, suster datang mengambil darahku. “Ibu, diambil darahnya untuk contoh di PMI ya, ibu harus transfusi,” ujar suster. Dengan rahang gemetaran, aku pasrah saja, kupikir, memang begini pemulihan bedah sesar sewajarnya.

Akhirnya setelah berkali-kali meminta sambil menitikkan air mata, suamiku boleh menjengukku di ruang pemulihan.. Ia pun menangis melihatku.. “Kamu ngga papa sayang? anak kita cantik banget… Waktu aku adzanin, dia menoleh ke aku, matanya melototin aku. Dia sehat, skor kesehatannya dia nyaris sempurna,” bisiknya ke kupingku. Aku meminta suamiku untuk membawa foto-fotonya ke ruang pemulihan. Disitulah aku sangat terharu.. ia sempurna, sehat pula. Tapi aku ingin memeluknya, ingin berdiri berlari ke arahnya. Namun apa daya, aku tak mampu.. bahkan saat kucubit kakiku, tak ada rasa apa-apa, kebas, kebal, bagaimana kubisa berlari.

Malam itu, aku sama sekali tak tidur. Aku ingin ditemani suamiku tercinta, ingin memeluk bayiku yang baru bertemu denganku di ruang operasi tadi. Aku benar-benar full terjaga hingga adzan subuh terdengar berkumandang. Gelisah memikirkan apa, entah. Hanya ada rasa tak enak di hati yang mengganjal.

Sementara itu, di ruangan lain sesaat setelah Shaina dilahirkan… (aku ceritain berdasarkan cerita ibu dan suamiku)

Saat meminta suamiku ke ruang pemulihan bayi untuk mengadzani, suster dan bidan keluar dengan jubah hijau bersimbah darah menetes-netes. Dalam hati suamiku berbisik, “Astaga, darah siapa itu?” Sebelumnya, dokter mendatangi suami dan keluarga untuk memberi kabar. Bahwa, aku kehilangan banyak darah, lebih dari 500ml, sangat tidak normal untuk ukuran pendarahan biasa, oleh karena itu aku harus transfusi.

Saat bayiku dikeluarkan dari rahim, rahimku tidak memperlihatkan tanda-tanda penyusutan, justru mengucurkan banyak sekali darah. Tak ada kontraksi untuk menyusutkan rahim. Suamiku diminta tandatangan persetujuan tindakan, salah satunya untuk aku di transfusi.

Sesaat setelah Shaina dikeluarkan dari perutku, dokterpun keluar untuk memberi kabar mendebarkan ini. Bila dalam beberapa saat tidak ada kontraksi sama sekali dari rahimku, ia meminta izin untuk mengangkat rahimku.. karena bila tidak akan membahayakan jiwaku. Semuanya disetujui suami, dan ia pun berdoa meminta yang terbaik. Mungkin dalam hatinya, “Tak apa, yang penting anakku sehat selamat. Angkat rahim bukan berarti aku tak punya keturunan,” begitu mungkin pikiran suami.

Namun, Alhamdulillah hirabbil Alamin, berkat doa seluruh keluarga, semua bisa kulewati. Rahimku menyusut walau perlahan, dokter bilang, “lelah rahim, karena harus melewati proses persalinan awal yang panjang dengan kontraksi yang sangat intens”. Dokter juga menyalahkan aku dan keluarga karena meminum rendaman rumput fatimah 2 hari sebelum hari kelahiran ini. Mamaku dan mama mertua jadi merasa bersalah, lantaran mereka yang mengojok-ojok aku untuk meminum sari rendaman rumput fatimah yang dibawa langsung dari Tanah Suci. Dalam hati, aku juga sedikit menyalahkan mereka, lantaran tak sabar menimang cucu. (CATAT INI IBU-IBU, JANGAN SEMBARANGAN MINUM RENDAMAN RUMPUT FATIMAH! karena bisa menimbulkan kontraksi hebat yang tak natural)

Tapi ah, sudahlah. Semuanya sudah berlalu. Aku kini sudah bisa menulis cerita ini, ngeblog lagi dan menyebarkan cerita ini ke teman-teman semua. Anakku sehat.. sangat sehat. Tes APGAR yang dijalani sesaat setelah dilahirkan menunjukkan angka 9 dari yang tertinggi 10 poin. Ia berhasil menyusui dini 20 menit sejak pipinya ditempelkan di dadaku. Shaina juga baik, dia hanya menangis saat haus, basah diapers, tidak enak badan mau berdahak dan ngulet-ngulet perut mencari selah untuk BAB. Setelah itu, dia tidur pulas, atau tidur aktif sambil terkadang berinteraksi dengan aku. Matanya dibuka lebar-lebar mencari-cari suaraku..

Shaina.. ah sayang… Mama sayang banget sama kamu. Ninggalin kamu ke kamar mandi saja rasanya sudah tercium bau harum pipi kamu.. Tangisan memelas Shaina juga bikin Mama rindu.. dia kalau menangis tak pernah teriak ngamuk.. hanya kalau sudah capai, tangisannya dibarengi dengan ngos-ngosan dan suara desahan yang bikin hati miris, bikin kita tambah sayang sama dia.

Perjuangan kita udah selesai nak.. Sekarang, mama berjuang lagi. Begadang tengah malam, kurang tidur, menghadapi baby blues yang terkadang datang dan belajar mendekap kamu lebih nyaman agar Shaina merasa nyaman di pelukan mama.. Shaina sekarang tinggal berjuang, gimana caranya untuk tetap sehat dan tumbuh normal sebagai perempuannya mama papa yang bahagia seumur hidupmu..

the day Shaina born, is the day I fell in love again.. madly, deeply.

39 Comments

  • Ya ampun mba.. nangis deh baca ini.. Aku juga ngelahirin c-section, tetep deg2an walo ga se heboh cerita lahiran Shaina.. Salam kenal ya, sering banget liat Shana di IG, Path nya teh Isty. Hehe.. Jadi familiar bgt deh sama Shaina πŸ™‚

    Btw, nyasar kesini gara2 googling kaldu biocell.
    *halah,emak2 bener*

  • mama shaina..ceritanya bikin nangis dan terharu..membayangkan perjuangan melahirkan itu dahsyat banget..antara hidup dan mati.kebetulan aku juga pasiennya dokternya irvan. congrats to being a real mom πŸ™‚

  • Blm terlambat bt ngucapin selamat khan…bt kelahiran Shaina cantik yg skr udh gede…aq br buka blognya baca postingan yg ini aq sampe meneteskan beberapa tetes air mata…bahkan laptop sempet mati krn lupa gk pasang chargernya..jujur terharu mbak..krn aq melahirkan 3 anak dlm 4thn SC semua tanpa org tua disisi sy krn ibu kandungku sdh meninggal stlh melahirkan aq 3hr krn pendarahan,sedangkan ayah sll dtg stlah sy melahirkan dn klrga(kakak,adik)pnya kesibukan msg2,mertua jauh,cuma suami yg mondar mandir ngurus smua nya…dan alhamdullilah anakku skr udh besar2 dn sht gk terasa memang capenya skalian..jarak anak pertama dn ke 2 adalah 9 bln jadi thn lhrnya sama thn 2005 (jd dlm 1thn 2kali SC yg mmg shrusnya gk boleh)krn yg ke 2 lhr prematur 7bln msk 8bln.Skr sy udh steril krn dokter yg menyarankan,krn jarak nya berdekatan, aq dulu KB tp KB suntik 3bln.Jadi curhat nich..terharunya krn kta pny pengalaman yg sama…aq jd ingat wktu melahirkan dulu..rasanya br kmrn..mslh rumput fatimah jg wktu kelahiran yg pertama aq minum akhirnya tetep SC krn kepala bayi gk ada yg bs turun walaupun smuanya ada kontraksi krn tulang panggul aq sempit kata dokternya sejak anak pertama aq udh di vonis hrs SC..ok..dech..moga Shaina cantik tumbuh sehat selalu..Amien..

  • Betul memang, tentang Rumput Fatimah.
    Waktu saya mengandung Gavin dan sudah dekat saatnya melahirkan, ibu maupun mertua saya justru melarang saya meminum air Fatimah. Katanya, justru kalau tidak kuat, akan mengakibatkan rahim robek.
    Ya Tuhan … !!
    Alibi ini semakin mayakinkan saya karena DSOG tempat saya memeriksakan kehamilan saya inipun mendukung sepenuhnya.
    ” Betul, Bu. Belum ada riset medis yang mampu mendukung keakuratan data bahwa rumput Fatimah bisa memperlancar persalinan melalui intensitas kontraksi rahim … ”
    Begitu kira-kira penjelasan beliau.
    Semoga bermanfaat untuk semua.

  • chica, sebenarnya aku dah tau blog ini, cuma hr ini nemu secara nggak sengaja, lg browsing waktu melahirkan, ternyata ada alamat blog chica, yg sudah terdengar familiar.

    Gue bacanya smbl nunggu pemeriksaan dokter cha, asli terharu abis, mana gue bentar lg melahirkan juga. Di ruang tunggu udah mau nangis aja baca blog lo, tp takut ibu2 lain pd bingung gue kenapa, jd gue sok2 ngelap muka aja, pdhal mah ngelap air mata, he3. Doain ya cha, semoga bisa kuat juga

    Cicha Reply:

    eny… moga lancar ya lahirannya.. πŸ™‚
    soal terharu, yang namanya pengalaman melahirkan dan jatuh cinta pada pandangan pertama ke anak memang selalu mengharukan…
    met jadi ibu ya en.. bentar lagi yah hehe πŸ˜‰

  • terharu Banget baca postingan mba,semoga baby shaina menjadi anak yang berbakti pada ortu dan agamanya,terutama pada ibunya yang sangat hebat melahirkan si baby shaina,thanks for sharing,semoga bunda shaina mendapat pahala dan ridho Allah Swt amien ya RABb,karena berjuang melahirkan seorang anak ke dunia ini:)

  • saya minum rendaman air Fatima itu juga, saya sudah ngeluarin flek dan dari jalan lahir hari jum’at pagi. Saat itu juga saya langsung minum rendaman rumput fatima (dengan paksaan ibu, waktu itu)dan saya makin ngerasain perut makin kenceng rasanya, kontraksi mulai gak beraturan waktunya. Diperiksa, sudah ada bukaan, tapi belum mencapai bukaan satu. Saya pulang,dan terus menunggu (dengan tetap minum rumput fatima), akhirnya sampe hari selasa, baru bukaan 5(mmmmmhhh). Selama 7 hari itu, saya nahan sakitnya kontraksi, dan sampe selasa, Dokter nyaranin buat c-sec malam itu juga, jam 11 saya dioperasi, Alhamdulillah Nadhifa Kayla lahir selamat jam 11.25 (pengalaman dan trauma itu masih membekas sampe sekarang, nggak akan pernah lupa)

  • luar biasa ya mbak emang perjuangan jadi seorang ibu.. udah sebulan lebih sejak aku melahirkan masih trauma nih.. hehe.. gak tau ntar beberapa taun lagi πŸ˜›

  • Mama Shaina,
    Lam kenal..Aq dulu jg minum air rumput fatima n mulesnya jadi ga karuan..

    Skrg sdg menunggu kelahiran anak ke 2…Mhn doanya..

  • suer, jadi nangis nih..
    inget c-sec kemaren. Mana ini lagih di kantor. Malu kan kalo mata merah2. Dikira ada masalah sama suami πŸ˜‰
    Ceritanya mirip aku mbak. Tapi belom bisa nulis banyak. Disambi kerja, soalnya.
    Yang jelas, selamat! Anda ibu yang hebat!

  • ya Allah mba,….aku sampe nangis bacanya. Diliatin temen2 kantor n CCTV ku lagih πŸ˜€

    Aku juga sempet ngalamin mules setelah diinduksi. Tapi trnyata aku harus cesar juga akhirnya. Cuma perjuangan aku ga ada apa2nya dibanding perjuangan mba chica. Sukur alhadmulillah rahim mba chica bisa kembali normal. Semoga ga trauma ya mba(jujur….aku juga masih lumayan trauma)

  • huhuuhhuuuu.. aku sampe nangis bacanya.. belum telat untuk bilang selamat kan mbak? alhamdulillah baby shaina-nya sekarang udah besar dan lucu ya..

    sering2 mampir ah, biar bisa liat perkembangannya baby shaina πŸ˜‰

  • lagi blog walking ktemu ama blognya mbak…tegang juga baca proses kehamilannya…btw, sama2 pasiennya dr.irvan nih..saya juga ditolong ma beliau bulan januari lalu..cesar juga….
    salam kenal dari jericho buat shaina yaa…

  • mbak chicha, aku bacanya juga sampe keluar air mata nih…
    mudah2an nanti aku juga kuat kaya mbak chicha ya… skrg aku udah masuk 33mgu mbak, doain ya…
    salam buat baby shaina…

  • Hai Avo, makasih ya..
    Jangan takut dear, kalau aku kemaren karena ada “faktor X” kalau kata dokterku. Bisa karena dipaksa kontraksi sama rendaman rumput fatimah, atao faktor lainnya. Kalau kita lahir natural aja alias nunggu kapan baby kita ngajak tanpa dipaksa2, insyaAllah bisa lancar..

  • Cha, baca tulisan kamu bikin gue nangis. Secara, nemu tulisan ini ga sengaja saat nyoba search “RSIA Tambak” di google untuk nyari sharing tentang melahirkan disana.
    Selamat ya bu. Sekarang aku sedang hamil 25 minggu, baru pengen usg 4D, makanya nyari2 RSIA yg murah.
    Cha, serem banget ya pengalaman kamu. Alhamdulillah, semua bisa kalian lewatin dengan lancar. Terus terang, aku jadi takut klo saat itu tiba. Tapi, kita hanya bisa berdoa, berusaha dan tawakal ya. Insya Allah, semuanya lancar.
    Salam ya buat suami dan Shaina.

  • nangiiiiss…. (T_T)

    the real love story nih, lebi dahsyat dari Ayat Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih yang barusan aku khatam-kan kemaren (T_T)

  • Chicha.. hebat bgt perjuangannya.. selamat ya.. terharu bgt baca ceritanya.. Sekarang Shaina dah disamping dah lega deh ya.. nikmatin ya si baby Shaina krn ngga berasa tiba2 cepat bgt gedenya bayi mungil kita.. hi3x..

    selamat datang Baby Shaina.. big hug from Vanya..

  • Cicha ternyata perjuangan kamu waktu melahirkan benar2 berat ya.. Ini ngebuktiin kalo kamu bener2 seorang ibu yang kuat lahir batin.

    Shaina semoga nanti saat Shaina baca postingan mama yang ini Shaina jadi tambah sayang ke mama ya…

  • Jadi terharu baca crita perjuanganmu Cha. Smoga Shaina jadi anak yang berguna ya sayang … Nikmatin masa2 jadi ibu baru deh Cha, it’s really amazing. Sekarang aja aku dah kangen lagi untuk nikmatin rasanya waktu Aurele baru lahir. Take care ya Cha

  • Masha Allah, Subhanallah…
    I’m in my tears while reading this beautiful and amazing story of your labor.
    Indeed,it’s a heartwrenching experience…
    Congratulation for the safe labor, for the strength and love of motherhood, and specialy for the Lovely Shaina…She’s such an adorable baby and she would be grateful to have a mother like you.
    once again..Congratulation, May Allah bless you and your small beautiful family all the way

  • Subhanallah… mbak cicha hebat banget, terharu dengan perjuangannya.. selamat sekali lagi ya mbak… insyaAllah shaina akan jadi anak yang sholehah, kebahagiaan orangtuanya di dunia dan akhirat.. amiin…

  • Aduwh… yg begini2 yg kdg bikin aq suka ngeri klo ngebayangin saatnya melahirkan! Blm hamil, pengiiiin skali hamil, tapi klo denger pengalaman dari tmn2 yg sdh prnh melahirkan, rasanya jadi ciuutt..!
    Tapi justru jd tertantang, sesakit apapun rasanya, InsyaAllah akan aq hadapin!!

    Soal rumput fatimah. Bener banget. Lebih baik konsul dulu sblm minum. Tapi biasanya itu HANYA diperuntukkan bagi calon ibu2 yg-perhitungan hari lahirnya sdh tiba, tapi malah blm kontraksi/mules2/tanda2 mlahirkan lainnya.

    Kejadian juga Cha, sama istrinya room-mate’ku dikantor. Dia minum 1 atau 2 hr (aq lupa) sblm persalinan, dgn harapan supaya melahirkan (NORMAL tentunya) dgn lancar. Dan seblm2nya ga pernah ada indikasi bahwa dia bakal melahirkan sesar. Tapi kenyataannya beda. Hampir sama dgn apa yg Chicha alamin.

    Anyway.. Selamat atas perjuangannya & jadi perempuan yg sempurna bisa melahirkan Shaina yg sehat walafiat. Alhmdulillah.. bs langsung ngASI. Smoga jd anak yg kuat, sehat, pinter, soleha, jd kebanggan smua orang. Amiin.

    Ps: klo baby blues msh melanda, banyak2 ZIKIR aja minta kekuatan & kesabaran sm Allah. Itu rizki ddari-Nya. Be strong!

  • Aduwh… yg begini2 yg kdg bikin aq suka ngeri klo ngebayangin saatnya melahirkan! Blm hamil, pengiiiin skali hamil, tapi klo denger pengalaman dari tmn2 yg sdh prnh melahirkan, rasanya jadi ciuutt..!
    Tapi justru jd tertantang, sesakit apapun rasanya, InsyaAllah akan aq hadapin!!

    Soal rumput fatimah. Bener banget. Lebih baik konsul dulu sblm minum. Tapi biasanya itu HANYA diperuntukkan bagi calon ibu2 yg-perhitungan hari lahirnya sdh tiba, tapi malah blm kontraksi/mules2/tanda2 mlahirkan lainnya.

    Kejadian juga Cha, sama istrinya room-mate’ku dikantor. Dia minum 1 atau 2 hr (aq lupa) sblm persalinan, dgn harapan supaya melahirkan (NORMAL tentunya) dgn lancar. Dan seblm2nya ga pernah ada indikasi bahwa dia bakal melahirkan sesar. Tapi kenyataannya beda. Hampir sama dgn apa yg Chicha alamin.

    Selamat atas perjuangannya & jadi perempuan yg sempurna bisa melahirkan Shaina yg sehat walafiat.

    Ps: klo baby blues msh melanda, banyak2 ZIKIR aja minta kekuatan & kesabaran sm Allah. Itu rizki ddari-Nya. Be strong!

  • makasih semuanya..

    Aku mau ngelurusin soal rumput fatimah. Kebetulan dokterku memang anti dengan jamu-jamuan, dan memang rendaman rumput fatimah dapat memicu kontraksi, makanya dibilang “dapat memperlancar persalinan”.

    Jadi, bila calon ibu yang sebenernya sudah cukup kontraksinya akan bertambah intens dengan bantuan rumput fatimah. Lain hal bila memang diperlukan untuk satu dan lain hal (sampe minggu2 terakhir kehamilan tak ada tanda persalinan sama sekali, bayi belum turun panggul, tak pernah merasa kontraksi atau braxton hicks selama kehamilan) mungkin beda ceritanya.

    Saran saya, dikonsultasikan saja dengan dokternya bila memang mau minum rendaman rumput fatimah ini.. πŸ™‚ Moga-moga ini ngga terjadi di teman-teman. Cukup saya saja.

  • alhamdulillah… barakallahu buat adik (ngadikkin kaka :D) Shaina. Selamat berbahagian untuk mama-papanya *manggilnya apa nih

    Setujuuu ini mamanya Shaina hebat banget, bener2 perkasa, masha allah, papanya dan neneknya juga tegar yaa.. duh kebayang kalo di sini pada panik deh.

    makasih nfo rumput fatimanya, aku udah siap2 aja sih, tapi emang belum mantap untuk pake, heheh… duh jadi deg2an nih…

  • Mama Shaina hebat..!! hikz..terharu ya baca ceritanya..Semoga Shaina jadi anak soleha. speechless… aku pikir sebuah perjuangan berat waktu proses melahirkan Salma, ternyata ada yang lebih berat lagi n Alhamdulillah aku ga jadi minum rendaman rumput Fatimah..sun sayang buat Shaina..

Leave a Comment